fbpx

29 Vocabularies Populer COVID-19 – Fresh From The Oven!

belajar bahasa inggris covidSampai artikel ini diposting, serangan pandemi virus Corona masih belum mereda di beberapa negara termasuk di Indonesia.

Wabah yang mulai datang awal Maret 2020 tersebut tak ayal membuat kalang kabut masyarakat karena dampaknya yang luar biasa masif.

Hampir semua sektor diserang oleh virus yang dikenal dengan COVID-19 ini. Mulai dari pariwisata, perhotelan, kuliner sampai pendidikan. Tak terkecuali sekolah-sekolah maupun lembaga-lembaga non-formal seperti kursus-kursus termasuk kursus bahasa Inggris.

Tiap hari berita tentang perkembangan virus corona maupun jumlah yang terkena terus didengungkan oleh media dan masyarakat.

Beberapa istilah lama maupun baru yang terkait wabah ini menjadi kian akrab di telinga.

Di pagi yang mendung ini ditemani segelas lemon hangat, kita akan coba mempelajari vocabularies atau kosakata-kosakata yang sedang ‘trending‘ dibicarakan tersebut.

Penjelasan kosakata bahasa Inggris ini sebagian besar kami ambil dari https://www.yalemedicine.org/stories/covid-19-glossary/ yang merupakan praktek klinis dari Fakultas Kedokteran Yale yang ada di Inggris.

Dari penjelasan tersebut selanjutnya akan kami coba terjemahkan secara bebas sekaligus sedikit mengulasnya.

Ready? Check these out:

What are coronaviruses? (Apa itu Virus Corona?)

1. Coronavirus

A family of viruses, seven of which are known to infect people. They get their name from the crown-like spikes—coronas—that appear on the viruses under a microscope. 

Coronaviruses can cause the common cold (which can also be caused by other viruses, such as rhinoviruses), as well as dangerous illnesses such as severe acute respiratory syndrome (SARS) and Middle East respiratory syndrome (MERS).

SARS CoV-2, the coronavirus virus first discovered in December 2019, causes the disease now known as COVID-19.

Virus Corona merupakan keluarga virus, dimana tujuh di antaranya diketahui bisa menginfeksi manusia. Nama ‘corona’ itu sendiri didapat dari bentuk duri yang menyerupai mahkota yang terlihat pada virus tersebut saat diamati di mikroskop.

Virus Corona dapat menyebabkan flu biasa (yang bisa juga disebabkan oleh virus lain, seperti rhinovirus), serta penyakit-penyakit berbahaya lainnya seperti sindrom pernafasan akut (SARS) ataupun sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS).

Virus Corona atau SARS CoV-2 ini pertama kali ditemukan pada bulan Desember 2019 yang akhirnya menyebabkan penyakit yang sekarang dikenal sebagai COVID-19.

2. SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome)

A coronavirus, which first infected humans in 2002, that reached epidemic proportions before it was contained—there have been no outbreaks since 2003.

SARS causes fever, headache, body aches, a dry cough, hypoxia (oxygen deficiency), and usually pneumonia.

SARS and SARS CoV-2 are related genetically, but the diseases they cause are different.

Merupakan virus Corona yang pertama kali menginfeksi manusia pada tahun 2002, dan mengakibatkan epidemi sebelum diatasi saat itu. Namun sejak tahun 2003 sudah tidak mewabah lagi.

SARS menyebabkan demam, sakit kepala, rasa sakit pada tubuh, batuk kering, hipoksia (kekurangan oksigen), dan biasanya pneumonia (gangguan pada sistem pernapasan).

SARS dan SARS CoV-2 memang terkait secara genetik, namun keduanya menyebabkan penyakit yang berbeda.

3. SARS-CoV-2 (Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2)

The new coronavirus that causes COVID-19, which is believed to have started in animals and spread to humans.

Animal-to-person spread was suspected after the initial outbreak in December among people who had a link to a large seafood and live animal market in Wuhan, China. 

While no one knows for sure how SARS-CoV-2 spread from an animal (and what type of animal) to a human, SARS-CoV-2 is a betacoronavirus, which means it originated in bats. 

Merupakan virus corona jenis baru yang menyebabkan COVID-19. Beberapa pendapat meyakini kalau virus ini diawali dari hewan yang kemudian menyebar ke manusia.

Pendapat tentang penularan dari hewan ke manusia ini diperoleh setelah wabah awal di bulan Desember 2019 menunjukkan ada kaitan antara orang-orang yang berhubungan dengan seafood (makanan laut) dan pasar hewan hidup di Wuhan, Cina.

Meskipun tidak ada yang tahu pasti cara SARS-CoV-2 menyebar dari hewan (dan jenis hewan apa) ke manusia, SARS-CoV-2 adalah betacoronavirus, yang artinya berasal dari kelelawar.

4. COVID-19 (Coronavirus Disease 2019)

Just as the human immunodeficiency virus (HIV) causes acquired immunodeficiency syndrome (AIDS), the coronavirus SARS-CoV-2 causes COVID-19.

The symptoms of COVID-19 include cough, fever, and shortness of breath. While the disease appears to cause mild to moderate illness in most people, in others it has caused life-threatening pneumonia and death.

Doctors and researchers continue to learn more about the disease, so information about symptoms, prevention, and treatment may change as more data becomes available.

Sama seperti virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyebabkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), virus Corona SARS-CoV-2 menyebabkan COVID-19.

Gejala COVID-19 biasanya batuk, demam, dan sesak napas. Walaupun penyakit ini kelihatannya menyebabkan penyakit dengan kadar ringan hingga sedang pada kebanyakan orang, tapi hati-hati, COVID-19 juga telah mengakibatkan pneumonia dan kematian bagi sebagian korbannya.

Sampai saat ini, para dokter dan peneliti masih terus melakukan penelitian tentang penyakit ini. Jadi ada kemungkinan informasi tentang gejala, pencegahan, dan pengobatannya masih bisa berubah ketika didapatkan data baru yang lebih valid.

 

Spread of Disease (Sebaran Penyakit)

5. Endemic 

The baseline, or expected, level of the disease in the community—meaning it always exists, like the common cold and flu, which are usually at low, predictable rates.

Tingkatan sebaran penyakit paling bawah yang terjadi di masyarakat. Jenis penyakit ini akan selalu ada, seperti demam dan flu biasa, dan biasanya bisa diprediksi serta terjadi pada tingkat yang rendah.

6. Epidemic

This refers to a sudden increase in the number of cases of a disease, above what is typically expected in a particular area.

COVID-19 is thought to have reached epidemic proportions in China in mid-January. 

Epidemi mengacu pada peningkatan jumlah kasus penyakit yang mendadak dari batas yang diharapkan di daerah tertentu.

Dikatakan juga sebagai epidemi apabila sudah mewabah ke lebih dari satu area, dengan tingkat penyebaran yang cepat dan sulit diprediksi. Seperti yang terjadi pada COVID-19.

COVID-19 diperkirakan telah mencapai ukuran epidemi di Cina pada pertengahan Januari 2020 yang lalu.

7. Outbreak

This shares the same definition as epidemic, with one exception—an outbreak usually refers to a more limited geographic area.

COVID-19 started as an outbreak in Wuhan, the capital city of the Hubei province in China at the end of December 2019, when the Chinese government confirmed that it was treating dozens of cases of pneumonia of unknown cause.  

Istilah ini memiliki definisi yang sama dengan epidemi, dengan satu pengecualian yakni istilah ‘outbreak‘ atau wabah biasanya merujuk pada area geografis yang lebih terbatas.

COVID-19 bermula sebagai wabah di Wuhan, ibu kota provinsi Hubei di Cina pada akhir Desember 2019, dan saat itu pemerintah Cina membenarkan bahwa pihaknya sedang menangani lusinan kasus pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui.

8. Pandemic

An epidemic that has spread over several countries or continents, impacting many people.

Pandemics typically happen when a new virus spreads easily among people who—because the virus is new to them—have little or no pre-existing immunity to it.

COVID-19, which was declared a pandemic by the WHO in early March, is the first pandemic known to be caused by the emergence of a new coronavirus.

Pandemi merupakan epidemi yang telah menyebar di beberapa negara atau benua, dan berdampak pada banyak orang.

Pandemik biasanya terjadi ketika virus baru menyebar dengan cepat di masyarakat yang tubuhnya tidak memiliki cukup kekebalan memerangi virus tersebut dikarenakan virusnya yang masih baru (tidak dikenal tubuh).

COVID-19, yang dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO pada awal Maret lalu, merupakan pandemi pertama yang diketahui disebabkan oleh munculnya virus corona baru.

9. Cluster

A collection of cases occurring in the same place at the same time. In the U.S. in February and March, early clusters of COVID-19 developed in California, New York, and Washington state.

Kumpulan kasus yang terjadi di tempat yang sama pada waktu yang bersamaan. Di Amerika Serikat pada bulan Februari dan Maret lalu, kluster awal COVID-19 muncul dan berkembang di negara bagian California, New York, dan Washington.

10. Community spread (Sebaran komunitas)

Circulation of a disease among people in a certain area with no clear explanation of how they were infected—they did not travel to an affected area and had no close link to another confirmed case.

This is sometimes referred to as community transmission. In late February, a woman in California became the first patient confirmed in the U.S. who could not confirm how she got COVID-19.

Merupakan sirkulasi atau perputaran penyakit pada masyarakat di daerah tertentu tanpa disertai penjelasan yang jelas tentang bagaimana mereka bisa terinfeksi. Orang-orang tersebut tidak melakukan perjalanan ke daerah yang terkena dampak dan tidak memiliki hubungan dengan kasus (wabah) yang sudah terjadi.

Hal seperti ini kerap disebut sebagai penularan komunitas. Ada contoh dimana pada akhir Februari 2020 yang lalu, seorang wanita di California Amerika Serikat menjadi pasien pertama yang dikonfirmasi terjangkit, namun tidak ada informasi bagaimana dia bisa tertular COVID-19 tersebut.

 

Transmission (Penularan)

11. Incubation period

The time between when a person is infected by a virus and when he or she notices symptoms of the disease. Estimates of the incubation period for COVID-19 range from 2-14 days, but doctors and researchers may adjust that as more data becomes available.

Merupakan periode atau waktu saat saat seseorang mulai terinfeksi oleh virus hingga timbul gejala-gejala penyakit tersebut. Perkiraan masa inkubasi COVID-19 berkisar 2-14 hari, tetapi dokter dan peneliti menyatakan bahwa fakta ini masih bisa berubah seiring dengan informasi atau data-data baru yang lebih valid.

12. Droplet transmission

A form of direct transmission, this is a spray containing large, short-range aerosols (tiny particles suspended in air) produced by sneezing, coughing, or talking.

Droplet transmission occurs—in general and for COVID-19—when a person is in close contact with someone who has respiratory symptoms. 

Suatu bentuk penularan langsung, berupa muncratan partikel yang mengandung aerosol (partikel-partikel kecil tak kasat mata yang ada di udara) dalam jarak pendek. Droplet atau partikel super kecil ini berasal dari bersin, batuk, atau berbicara langsung dengan orang lain.

Penularan droplet COVID-19 ini terjadi saat seseorang melakukan kontak fisik dengan orang lain dalam jarak dekat yang memiliki gejala masalah pernapasan.

13. Asymptomatic

When a patient is a carrier of an illness but does not show symptoms.

Merupakan kondisi ketika seseorang telah terjangkit penyakit namun tidak menunjukkan gejala apapun. Di Indonesia populer dengan istilah OTG (Orang Tanpa Gejala).

 

Preventing COVID-19 (Mencegah COVID-19)

14. Flattening the curve

Slowing the spread of the virus.

“Flattening the curve,” which involves strategies to decrease transmission of the disease, would result in fewer patients during the peak period.

This, in turn, would mean hospitals would be better able to manage the demands of patients who are sick with COVID-19 and other illnesses.

Artinya memperlambat penyebaran virus.

Usaha “meratakan kurva,” yang melibatkan cara-cara atau strategi untuk mengurangi penularan penyakit yang diharapkan bisa menurunkan jumlah pasien selama periode puncak.

Hal ini berarti rumah sakit akan lebih mampu menampung pasien yang terjangkit COVID-19 maupun penyakit lainnya.

15 Hand hygiene (Kebersihan tangan)

A key strategy for slowing the spread for COVID-19. Washing hands with soap and water for at least 20 seconds is one of the most important steps to take to protect against COVID-19 and many other diseases.

Strategi atau cara utama untuk memperlambat penyebaran COVID-19. Mencuci tangan dengan sabun dan air selama sekurangnya 20 detik adalah salah satu langkah paling penting yang harus dilakukan untuk melindungi diri terhadap COVID-19 ataupun penyakit lainnya.

16. Social distancing / Physical distancing

Putting physical distance between yourself and other people.

This means avoiding groups of people (parties, crowds on sidewalks, lines in a store) and maintaining distance (approximately 6 feet) from others when possible. 

This is a key strategy for avoiding COVID-19 infection and to flatten the curve.

Menempatkan jarak fisik antara Anda dan orang lain.

Hal ini berarti menghindari kerumunan orang (pesta, kerumunan di trotoar, antrian di toko), serta menjaga jarak sekitar 2 meter dari orang lain jika memungkinkan.

Ini adalah cara utama untuk menghindari infeksi COVID-19 dan meratakan kurva penyebarannya.

17. Shelter-in-place order (Aturan tetap di rumah)

This is a decree, usually from a government official, for people to stay in their homes with exceptions that include going out for essential needs, such as groceries, as well as outdoor activities like walking and biking in public spaces.

People who work in critical services, like health care or law enforcement, or essential businesses, are usually excluded from these mandates.

Ini merupakan aturan atau perintah yang diinstruksikan Pemerintah kepada warganya untuk tetap tinggal di rumah. Namun ada pengecualian untuk hal-hal darurat seperti keluar rumah untuk membeli kebutuhan pokok atau pangan dan aktivitas-aktivitas yang masih dirasa aman seperti olahraga jalan dan bersepeda di sekitar rumah.

Masyarakat yang bekerja di sektor layanan publik tertentu seperti kesehatan, penegakan hukum, ataupun usaha penting lainnya (pangan, perbankan) dikecualikan dari aturan ini, atau dengan kata lain masih diperbolehkan bekerja di luar rumah.

18. Self-isolation (Isolasi mandiri)

Basically a voluntary agreement, this means you are to remain at home and not go to work or school.

You’ll be expected to limit your movements outside (you can go for a walk and go shopping, though) and monitor your health for 14 days after returning from travel to a place known to have high numbers of COVID-19 infections.

Pada dasarnya isolasi mandiri adalah keikhlasan seseorang untuk mengisolasi dirinya sendiri. Ini berarti Anda harus tinggal di rumah dan tidak bekerja di luar rumah maupun bersekolah.

Anda diharapkan membatasi aktivitas di luar rumah (Anda bisa berjalan-jalan dan berbelanja) dan memantau kesehatan Anda selama 14 hari setelah kembali dari perjalanan ke tempat yang diketahui memiliki jumlah infeksi COVID-19 yang tinggi.

19. Self-monitoring

This simply means checking yourself for COVID-19 symptoms, including fever, cough, or difficulty breathing. If you notice symptoms, you should self-isolate and seek advice by telephone from a health care provider or local health department to determine whether you need a medical evaluation.

Memonitor diri berarti memeriksakan diri terhadap gejala-gejala COVID-19, seperti demam, batuk, atau kesulitan bernapas. Jika merasakan gejala-gejala tersebut, Anda harus segera mengisolasi diri dan menelepon tenaga medis atau rumah sakit setempat agar segera bisa diputuskan apakah Anda memerlukan perawatan medis atau tidak.

20. Isolation

On a larger scale, isolation involves keeping people with confirmed cases of a contagious disease separated from people who are not sick.

If you have a confirmed case of COVID-19, for example, you may be put into isolation for public health purposes—it may be voluntary or compelled by federal, state, or local public health orders.

Pada skala yang lebih besar, isolasi berarti menjaga orang-orang yang telah terjangkit penyakit menular dan memisahkannya dengan orang-orang yang belum terjangkit.

Misalnya, apabila Anda dinyatakan positif terjangkit COVID-19, Anda mau tidak mau kemungkinan akan diisolasi untuk tujuan kebaikan dan kesehatan masyarakat sekitar.

21. Quarantine (Karantina)

Unlike isolation, quarantine involves separating and restricting the movements of people who were exposed to a contagious disease to see if they become sick.

The government may impose a quarantine on someone who was exposed to COVID-19 to avoid spread of the disease to others if they get sick.

Karantina berbeda dengan isolasi. Karantina melibatkan pemisahan dan pembatasan pergerakan orang yang terkena penyakit menular untuk kemudian dilakukan pengamatan mengenai kondisinya.

Pemerintah dapat melakukan karantina pada seseorang yang telah terjangkit COVID-19 untuk menghindari penyebaran penyakit tersebut kepada orang lain.

 

The medical response (Tindakan medis)

22. Simple/Rapid Tests

Simple/Rapid tests are designed for use where a preliminary screening test result is required and are especially useful in resource-limited countries

Tes cepat dirancang sebagai uji penyaringan awal yang diperlukan untuk melihat kemungkinan ada tidaknya virus di dalam tubuh. Tes ini sangat berguna di negara-negara yang memiliki sumber daya terbatas.

23. Throat Swab Culture

A throat swab culture, or throat culture, is a test commonly used to diagnose bacterial infections in the throat. These infections can include strep throat, pneumonia, tonsillitis, whooping cough, and meningitis.

The purpose of a throat swab culture is to detect the presence of organisms in the throat that could cause infection. (https://www.healthline.com/health/throat-swab-culture)

Tes swab tenggorokan,  adalah tes yang biasa digunakan untuk mendiagnosis infeksi bakteri atau virus di tenggorokan. Infeksi ini meliputi radang tenggorokan, pneumonia, radang amandel, batuk rejan, dan meningitis.

Tujuan dari tes swab tenggorokan adalah untuk mendeteksi keberadaan organisme yang ada di tenggorokan yang dapat menyebabkan infeksi.

24. Drive-thru testing

Medical staff will take a “swab test” (usually done through the nose) to collect cells to test for COVID-19.

These designated testing stations reduce the likelihood of further spreading the illness by allowing you to remain in your car, having the test taken through your open window. (The sample is then sent to a laboratory.) 

Staf medis akan melakukan “swab test” (biasanya dilakukan melalui hidung) untuk mendapatkan sel sampel untuk menguji COVID-19.

Pos-pos pengujian yang ditunjuk akan melakukan proses tersebut dengan tetap menjaga protokol keamanan dan kesehatan dengan cara meminta Anda untuk tetap berada di mobil, dan melakukan tes swab tersebut melalui jendela mobil Anda. (Sampel tersebut kemudian dikirim ke laboratorium.)

25. Anti-viral medicines (Obat antivirus)

A class of drugs used to treat viral infections—not bacterial ones (which are treated with antibiotics). So far there are no FDA-approved drugs to treat COVID-19.

There are also several investigational, or experimental, drugs being studied in several hundred clinical trials currently underway in countries around the world.

For example, remdesivir is an investigational intravenous drug with broad antiviral activity that researchers have called “promising.” It is being tested in multiple sites in the U.S., including at Yale New Haven Hospital.

Beberapa obat telah digunakan untuk mengobati infeksi virus — bukan yang terkait dengan infeksi bakteri (yang diobati dengan antibiotik). Dan sejauh ini belum ada obat yang disetujui FDA (Food and Drug Administration) untuk mengobati COVID-19.

Ada juga beberapa obat yang masih dalam tahap penelitian dan uji coba yang sedang dilakukan ratusan lab kesehatan di negara-negara di seluruh dunia.

Sebagai contoh, remdesivir adalah obat intravena yang masih diteliti sebagai antivirus  oleh para peneliti dan disebut “menjanjikan.” Obat ini sedang diuji di beberapa tempat di Amerika Serikat, termasuk di Rumah Sakit Yale New Haven.

26. Personal protective equipment (PPE) (Alat Pelindung Diri – APD)

“Specialized clothing or equipment, worn by an employee for protection against infectious materials,” as defined by the Occupational Safety and Health Administration (OSHA).

In health care settings, PPE may include gloves, gowns, aprons, masks, respirators, goggles, and face shields. The CDC provides recommendations for when and what PPE should be used to prevent exposure to infectious diseases.

Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (OSHA) mendefinisikannya sebagai “Pakaian atau peralatan khusus, yang dikenakan oleh karyawan untuk perlindungan diri terhadap material atau bahan yang bisa menularkan infeksi,”

Di Indonesia populer dengan istilah APD (Alat Pelindung Diri)

APD mencakup sarung tangan, gaun (baju hazmat), celemek, masker, respirator, kacamata, dan pelindung wajah. CDC memberikan rekomendasi kapan dan APD apa yang harus digunakan untuk mencegah paparan penyakit menular.

27. N95 respirator

Sometimes casually referred to as an “N95 mask,” this PPE is worn on providers’ faces, forming a tight seal around the nose and mouth.

Though it looks like a surgical mask, an N95 is actually a respirator that filters out at least 95% of particles in the air.

N95 respirator sering disebut sebagai  ‘masker N95’. APD ini dikenakan pada wajah yang dilengkapi lapisan pengetat di sekitar hidung dan mulut.

Meskipun terlihat seperti masker bedah, N95 sebenarnya adalah respirator yang menyaring setidaknya 95% partikel di udara.

28. Ventilator

This is a machine to help patients breathe when their lungs are damaged, and they can’t get enough oxygen on their own.

A ventilator takes over the work of breathing for a patient to allow the damaged lungs to heal; it is not itself a treatment.

Ventilator adalah mesin untuk membantu pasien bernafas ketika paru-parunya tidak bisa bekerja normal atau sudah rusak. Artinya pasien sudah kesulitan bernafas sendiri.

Ventilator menggantikan proses bernafas bagi pasien sampai paru-parunya bisa sembuh dan kembali normal. Ventilator itu sendiri bukanlah sebuah pengobatan.

29. Vaccine (Vaksin)

A vaccine triggers the immune system to help it build immunity to a disease.

The immune system already has the capacity to react to diseases by producing substances called antibodies that remain in the body to fight them in the future.

With a vaccine, you don’t have to get the disease to develop immunity—the vaccine triggers the same process by providing the body with a tiny amount of a germ that has been weakened or killed, but small enough that it won’t make you sick.

Vaccines are introduced to the body via injection, mouth, or a nasal spray.

Vaksin memicu sistem kekebalan tubuh untuk membantu membangun kekebalan terhadap suatu penyakit.

Sistem kekebalan dalam tubuh sebenarnya sudah memiliki kapasitas untuk bereaksi terhadap penyakit dengan memproduksi zat yang disebut antibodi yang akan tetap ada dalam tubuh untuk melawan penyakit yang mungkin datang di kemudian hari.

Dengan vaksin, tubuh Anda tidak perlu terjangkit penyakit dulu untuk mengembangkan kekebalan, karena vaksin memicu proses yang sama dengan cara memberikan mikroba yang telah dilemahkan atau dilumpuhkan, jadi tidak sampai membuat Anda sakit.

Vaksin dimasukkan ke tubuh melalui suntikan, mulut, atau semprotan.

Stay safe, stay home.

belajar bahasa inggris

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!