Read Me

Nessa and her cousin Sophy are in a mall and preparing to go back home. Suddenly, they see Nessa's old friend, Nadine.

introducing someone

  • Nessa: Nadine! Hello, how're you? (Nadine! Halo, bagaimana kabarmu?)
  • Nadine: Nessa?? Oh, hi! I’m fine. Glad to see you again. Long time no see. (Nessa?? Oh, hai! Aku baik. Senang sekali ketemu kamu lagi. Lama tak jumpa.)
  • Nessa: Yeah, I really miss you. (Yeah, aku kangen banget.)
  • Nadine: Me, too. (Aku juga.)
  • Nessa: What're you doing here? (Sedang ngapain kamu di sini?)
  • Nadine: Just window shopping, haha. And you? (Cuma lihat-lihat, haha. Dan kamu?)

...continue reading

Bekal kemampuan berbahasa asing memang menjadi hal yang sangat penting di era modern saat ini, sehingga memberikan teknik yang tepat untuk memaksimalkan belajar Bahasa Inggris anak menjadi hal yang perlu diperhatikan.

belajar bahasa inggris untuk anak

Jika bahasa Inggris bukan bahasa ibu mereka, maka Anda perlu berhati-hati juga. Jangan sampai terjadi kebingungan antara bahasa ibu dan bahasa asing yang didengarnya.

Tiap anak berbeda-beda daya serapnya.

Lihat dulu putra-putri Anda. Pahami kemampuan dan daya belajarnya. Sudah siapkah mereka?

Kalau memang sudah, ada beberapa langkah mudah yang bisa Anda lakukan untuk mengajarkan Bahasa Inggris pada anak-anak tanpa membuat mereka terpaksa untuk mempelajarinya.

...continue reading

Anak sekolah dasar (SD) yang berusia 7-12 tahun secara psikologis berada pada masa kanak-kanak tengah, middle childhood. Usia ini menjadi masa emas untuk belajar bahasa selain bahasa ibu (bahasa pertama). Menurut Erikson, tokoh psikososial, kemampuan berbahasa anak pada usia ini lebih berkembang dengan cara berpikir konsep operasional konkret. Kondisi otaknya masih plastis dan lentur sehingga penyerapan bahasa lebih mudah.

Ketika anak berusia 6-13 tahun atau berada di bangku sekolah dasar, area pada otak yang mengatur kemampuan berbahasa terlihat mengalami perkembangan paling pesat. Pada usia SD seperti itu biasa disebut juga sebagai critical periods.

Kemampuan anak pada usia SD dalam proses kognitif, kreativitas, dan divergent thinking berada pada kondisi optimal. Berdasarkan hasil riset teknologi brain imaging di University of California, Los Angeles, secara biologis anak usia SD menjadi waktu yang tepat untuk mempelajari bahasa asing.

Anak-anak yang belajar mempelajari bahasa asing lain mempunyai kemampuan lebih dalam tugas memori episodic, mempelajari kalimat dan kata, dan memori semantic, kelancaran menyampaikan pesan dan mengategorikannya.

Hal ini menunjukkan bahwa mempelajari bahasa asing tidak akan mengganggu performa linguistik anak dalam bahasa apa pun. Belum ada bukti bahwa bahasa pertama akan bermasalah jika mempelajari bahasa kedua, ketiga, dan seterusnya sebab fase anak-anak tengah memiliki fleksibilitas kognitif dan meningkatnya pembentukan konsep.

Anak-anak SD mampu memahami bahasa asing dengan baik seperti halnya pemahaman terhadap bahasa ibunya dalam empat keterampilan berbahasa: mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Oleh karena itu, anak-anak usia SD secara biologis berada dalam masa emas untuk mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa kedua setelah bahasa Indonesia. Hurlock (1993)

Di SD anak-anak lebih cenderung pada bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Inilah yang menjadi masalah, anak lebih termotivasi belajar bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia sehingga penguasaan bahasa Indonesia lebih jelek daripada bahasa Inggrisnya.

Seperti yang ditulis oleh Ainna Amalia FN, Dosen Psikologi IAIN Sunan Ampel, Surabaya, menghilangkan bahasa Inggris dari kurikulum SD bukan solusi terbaik. Masalahnya ada pada sisi perhatian dan minat anak terhadap Bahasa Indonesia. Sehingga perlu perbaikkan dan membuat menarik pelajaran bahasa yang kurang mendapat perhatian dan minat itu. Perlu adanya pembenahan komprehensif, baik isi maupun metode pembelajarannya. Metode yang dipakai harus variatif dan kreatif serta media pembelajaran yang menarik.

Penguasaan bahasa Indonesia merupakan tanggung jawab sosial anak sebagai bahasa nasional. Di sisi lain, bahasa Inggris juga penting sebagai bekal generasi kita dalam menghadapi era

Sumber: http://www.sekolahdasar.net/2012/11/anak-usia-sd-adalah-masa-emas-belajar.html#ixzz2eq2S5zVF

Siang itu, sembari melangkah di selasar sebuah mall di Surabaya, saya melewati persewaan Online Game. Sebenarnya hal yang biasa saja, namun hari itu ada kejadian yang cukup menarik perhatian saya. Sebenarnya bukan apa yang saya lihat, tapi dengan apa yang saya dengar.

Ya, dari dalamnya terdengar celotehan-celotehan bahkan sesekali teriakan anak-anak dalam bahasa Inggris. Ya, benar, bahasa Inggris. "Oh man, I'm dead!", Hey, peluruku abis. Gimmi your ammo!", "Shoot, shoot!"

Kelihatannya mereka sedang asyik bermain online games. Memang hanya secuil kalimat atau beberapa kata saja yang mereka gunakan dalam bahasa Inggris. Tapi hal itu sudah cukup membuat saya lebih yakin tentang salah satu sisi positif dari bermain games (yang tentunya berbasis bahasa Inggris dalam hal ini).

belajar bahasa inggris dengan gamesHmm.. Pernahkah terpikir bahwa membiarkan anak untuk bermain permainan baik di Playstation maupun di computer dapat membantu perkembangan kemampuan bahasa Inggrisnya?

Memang semua ada sisi baik dan buruknya. Namun jika orang tua dapat memberikan pengertian kepada putra-putrinya untuk memilih games yang baik serta mendampingi di awal-awal, permainan konsol merupakan alternative yang menyenangkan bagi anak-anak untuk mengenal dan memahami bahasa Inggris, terutama  reading dan listening.

Anak-anak dapat bermain sekaligus belajar. Faktor ketertarikan akan menjadi dorongan bagi anak-anak untuk menguasai kosakata dan pengucapannya.

Namun tidak semua permainan cocok untuk pembelajaran. Permainan yang sangat membantu dalam pengembangan kemampuan berbahasa adalah yang ber-genre Role Playing Game (RPG) atau Adventure (petualangan). Berbeda dengan permainan platform atau fighting biasa, kedua genre ini membutuhkan kemampuan untuk memahami bahasa agar dapat terus bermain.

Bagaimana permainan dari kedua genre itu dapat membantu kemampuan bahasa Inggris anak-anak? RPG adalah sebuah permainan yang para pemainnya memainkan peran tokoh-tokoh khayalan dan menjalani sebuah cerita yang telah ditetapkan oleh pembuatnya.

Dalam permainan RPG, anak akan harus berinteraksi dengan karakter-karakter di dalamnya dan tentu saja dengan menggunakan bahasa Inggris, tanpa memahami bahasanya, akan susah bagi anak untuk menyelesaikan permainan tersebut.

belajar bahasa inggris menggunakan gamesHal yang sama juga berlaku pada game petualangan. Sebuah game petualangan adalah jenis game komputer yang mirip dengan film. Selalu ada cerita dan karakter utama (biasanya seseorang, seperti detektif atau bajak laut).

Perbedaannya adalah bahwa anak tidak hanya menonton anak mengendalikan karakter utama.

Anak menggunakan mouse atau keyboard, dan karakter Anak bergerak di sekitar dalam permainan dunia, melihat banyak hal, mengambil barang-barang di sana, menggunakan mereka, dan berbicara kepada karakter lain. Karakter yang dipilih juga berbicara kepada pemainnya.

Sebagai contoh, ketika anak mengatakan dia melihat sesuatu, karakternya akan memberitahu apa yang dilihatnya. Anak kemudian dapat menggunakan informasi ini untuk memutuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Terus, bagaimana bisa kedua genre  ini  baik untuk pembelajaran bahasa Inggris Anak?

Karena kedua genre ini adalah pilihan yang ideal, karena mereka didasarkan pada dialog. Karakter berbicara kepada dirinya sendiri dan berbicara dengan karakter lain. Semuanya tergantung pada dialog.

Ketika memainkan game seperti ini  anak memprogram otaknya dengan bahasa Inggris yang baik. Anak akan berkutat dengan sejumlah besar kalimat , percakapan bahasa Inggris yang sebenarnya. Kalimat-kalimat ini tidak hanya berbicara (seperti di TV).

Dalam game petualangan anak juga dapat mengaktifkan sub judul. Jika anak melakukannya, anak akan mendengar pengucapan dan melihat ejaan pada saat yang sama. Akibatnya, kalimat menempel di kepala Anak lebih kuat, dan Anak mendapatkan kemampuan untuk menghasilkan kalimat-kalimat yang sama diri sendiri.

Permainan-permainan itu meningkatkan pemahaman Anak tentang bahasa Inggris lisan. Dalam game petualangan modern, Anak dapat mendengar semua karakter berbahasa Inggris yang nyata. Dialog ini lebih mudah untuk memahami daripada di film: lebih lambat, jelas, dan Anak seringkali dapat menghentikan aksi dan mendengarkan kalimat lagi. Oleh karena itu, bermain permainan petualangan adalah praktek mendengarkan yang sangat baik.

Game ini dapat juga meningkatkan pengucapan Anak. Mendengarkan bahasa Inggris lisan yang baik adalah cara yang baik untuk pengucapan Anak.

belajar bahasa inggris dengan video gamesPermainan semacam ini juga meningkatkan motivasi Anak. Ketika anak memainkan game semacam ini, ia berada dalam situasi di mana mengetahui bahasa Inggris membuatnya dapat bermain dengan baik.

Jika anak dapat memahami dialog, ia tahu apa yang terjadi di dalam permainan. Hal ini membantunya memecahkan teka-teki. Anak-anak pun dapat bersenang-senang

Salah satu teknik yang berguna untuk bermain kedua genre game ini sangat sederhana: menggunakan kamus. Dengan mem-pause game, anak dapat mencari kata-kata bahasa Inggris baru di kamus.

Anak akan memahami lebih dari permainan, dan tentu saja anak akan mempelajari beberapa kosa kata baru dalam bahasa Inggris.

Jika Anak benar-benar termotivasi untuk belajar bahasa Inggris, ia dapat menuliskan semua kata-kata baru tersebut sehingga ia akan dapat mengingatnya selamanya.  Untuk melatih pemahaman anak tentang bahasa Inggris lisan, anak dapat memutar permainan tanpa teks. Agar dapat bermain, anak harus memahami bahasa lisan.

Pada awalnya, anak pasti akan memiliki masalah, tetapi anak akan berkembang menjadi lebih baik. Perhatikan bahwa bila menggunakan teknik ini, akan sulit untuk mencari kata-kata dalam kamus, karena Anak tidak akan melihat kata-kata di layar, anak hanya akan dapat mendengarkan.

Memanfaatkan permainan petualangan dan RPG  adalah apa yang saya lakukan ketika saya belajar bahasa Inggris di sekolah menengah pertama, dan yang juga terjadi pada murid serta keponakan saya. Bahkan keponakan saya yang pada saat itu masih belum bersekolah jadi mampu berbahasa Inggris secara alami meskipun hanya melihat saya memainkan permainan tersebut. Ini membuktikan bahwa belajar dan bermain dapat dilakukan secara bersamaan.

Bagaimana menurut Anda? 🙂

Written by Ms. Indah Wijayanti